
EMPAT LAWANG, MERDEKA POS – Kepala Dusun 9 Babatan diduga menJadi korban salah tangkap anghota polres Empat Lawang, ratusan warga Babatan mengelar aksi protes atas penangksoam Yersebut, Kuasa hukum korban meminta Kapolda Sumatera Selaran biaa mengusut tuntas dugaan sakah tangkat tersenut.
Penangkapan Jimmi Suganda, Kepala Dusun 9 Desa Babatan, oleh jajaran Polres Empat Lawang pada Minggu (8/3) memicu tensi tinggi antar warga. Protes keras mencuat setelah akun Facebook resmi Polres Empat Lawang mengunggah konten video yang dianggap memfasilitasi tuduhan sepihak dari warga Desa Endalo bahwa Jimmi adalah pelaku begal sadis.
Langkah kepolisian tersebut dinilai gegabah dan provokatif. Warga Desa Babatan menuding polisi justru memfasilitasi narasi “adu domba” yang berpotensi memicu konflik horizontal antara Desa Babatan dan Desa Endalo.
“Kami warga Desa Babatan mengecam penangkapan Jimi, perangkat desa kami. Saat kejadian tindak pidana tersebut, Jimi sedang bekerja di rumah Dodi di Muara Danau. Allahu Akbar!” seru sekitar 100 orang warga Babatan dalam aksi protesnya, Minggu (15/3).
Ketegangan ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya gesekan fisik di lapangan. Secara demografis, Desa Babatan memiliki populasi mencapai 8.087 jiwa, jauh lebih besar dibandingkan Desa Endalo yang berjumlah 1.357 jiwa. Jika konflik ini pecah akibat konten media sosial yang provokatif, Kapolres Empat Lawang dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.

Kuasa hukum Jimmi, Riski Aprendi, menegaskan bahwa kliennya adalah korban salah tangkap. Selain ditahan tanpa barang bukti yang kuat, Jimmi diduga mengalami kekerasan fisik oleh oknum petugas saat proses penangkapan.
“Kami dapati klien kami memar di kelopak mata. Dari pengakuannya, beliau dipukul saat berada di dalam mobil oleh beberapa anggota polisi. Kami sudah melaporkan kasus ini ke Propam Polda Sumsel,” tegas Rendi.
Menurut Rendi, polisi hanya bersandar pada keterangan sepihak tanpa mengindahkan saksi-saksi yang menyatakan Jimmi tidak berada di lokasi kejadian (TKP) saat pembegalan berlangsung. “Ini ketidak adilan nyata. Polisi hanya mendengar satu pihak dan mengabaikan fakta lainnya,” tambahnya.
Desakan Kepada Polda Sumsel
Merespons situasi yang kian memanas, warga mendesak Propam Polda Sumsel untuk segera mengusut admin media sosial Polres Empat Lawang. Konten video yang diunggah dinilai tidak profesional dan menjadi pemantik emosi massa.
Warga menuntut permohonan maaf secara terbuka dari pihak Polres guna meredam situasi. Jika mediasi dan penegakan hukum yang adil tidak segera dilakukan, di khawatirkan konflik antar-desa ini akan sulit dibendung. Pengikut Sorotan SEMUA Polres Empat Lawang Polda Sumatera Selatan Prabowo Subianto
Reporter : Hadi Warsito