Wujudkan ZeroTawuran Di Bulan Ramadhan, Forkopincam Tajurhalang Gelar Rapat Koordinasi Listas Sektoral

DAERAH

BOGOR ,MERDEKA POS – Menjelang bulan suci Ramadan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopincam)  Tajurhalang mengelar rapat Koordinasi lintas Sektoral, bertempat di aula kantor Kecamatan Tajurhalang, Rabu  (18/02/26).Acara dihadiri, Camat Tajurhalang Ivan Pramudia S.Sos,MM, Danramil 04 Bojonggede -Tajurhalang, Kapolsek Tajurhalang  Iptu Raden Suwito, Kepala Desa Se Kecamatan Tajurhalang, Ketua MUI tingkat desa se Kecamatan Tajurhalang, Kepala Dusun dan Ketua RW se kecamatan Tajurhalang. Kepada Merdeka Pos Kapolsek Tajurhalang Iptu Raden Suwito, menjelaskan,” Pada Hari ini, telah dilaksanakan rapat koordinasi lintas sektoral. Bersama  unsur MUI, Kecamatan,  Danramil, Camat, ketua MUI setingkat Desa , kepala Desa dan RW sekecamatan Tajurhalang. Topik yang dibahas yaitu antisipasi menjelang kerawanan di bulan ramadhan khususnya tawuran, harapannya kedepan mudah-mudahan kita bisa menekan nol atau zero kejadian tawuran di wilayah kecamatan Tajurhalang. Jelas,” KapolsekTajurhalang.

 

Di tempat yang sama Danramil 04 Bojinggede Tajurhalang menambahkan, ” Baik Terimakasih, kesempatan yang sudah diberikan kepada kami. Sudah di undang di rencana pengamanan menjelang bulan ramadhan, kami di wilayah kami perlu disampaikan, khusus nya kecamatan Tajurhalang dan Bojong gede semua sama yang paling khusus kita perhatikan adalah terkait tawuran ini, hampir setiap hari di Bojonggede terjadi tawuran, Seperti contoh kejadian tawuran di bambu kuning kita sudah berkoordinasi dengan Kapolsek untuk coba untuk bubarkan aksi tawuran asa mula nya dari Cibinong dan lari ke jembatan kita bubarkan langsung lari ke Pabuaran langsung dan dari Kapolsek memang betul lari hingga ke Bomang. dan kami bekerjasama juga sama Anggota Kapolsek. Dan keamanan di Tajurhalang semakin kondusif.

Tapi saya mohon untuk bantuan nya dari ke wilayahan karena, dari kita masuk pak satu bulan menjelang, yang sering terjadi itu pak Kapolsek dan kamu juga pernah dikunjungi untuk RT RW namun hanya sekilas saja.jadi saya minta tolong dan memohon untuk RT RW dan segenap pejabat di desa mari kita sama-sama menyadarkan anak-anak kita karena kasian disini warga disana warga. Maka dari itu saya menghimbau mari sama-sama bapak dan ibu mari kita, sama-sama menjaga hal itu jangan sampai terjadi kalo misalnya ada diantaranya.

Disampaikan oleh Kapolsek ada kumpul – kumpul nanti kita panggil RT RW nya untuk kita panggil nanti bisa menjadi hal yg tidak baik jadi kita minta tolong untuk peduli dan sama-sama terhadap lingkungan. Mungkin bapak-bapak ibu juga pernah melihat dari sosmed dan mungkin ini menjadi asal mulanya karena anak-anak kita merasa bangga dan jago.jadi kita misalkan orang tua terjadi pembiaran jangan salahkan kami.terjdi misalnya tawuran di pasar tiba-tiba ada ibu-ibu terkena bacok dan yang bacok anak masih SMP dan itu ya pak , saya mohon bantuannya untuk saling peduli dan mengingatkan orang tua.

Makanya kalo bisa pak sampaikan kalo bisa di sosialisasikan ke sekolah-sekolah. Intinya adalah kita sebagai orang tua untuk media sosial atau hp kita harus tau kuncinya hp. Karena kejadiannya tawuran asal mulanya dari hp media sosial, dan saya minta tolong mekanisme nya bagaimana untuk mengamankan anak-anak kita. untuk itu saya minta tolong kepada jajaran terkait seperti Kapolsek, pol PP untuk merazia atau mengecek minuman keras, khusus nya di toko-toko jamu tapi Mohon maaf ini biasanya berkedok menjual minuman keras. Dan bisa di beli oleh anak-anak kita karena pengaruh dari minuman keras tersebut. Jadi mohon bantuannya pak untuk disampaikan kepada orang tua dan mari kita sama-sama mewujudkan Tajurhalang kondusif,” ujar Danramil

Hal senada juga di ungkapkan Camat Tajurhalang,”Bicara tawuran, Pak, ya kita harus mengakui kita generasi A, bukan generasi Z . Kadang-kadang kalah informasi teknologi sama anak-anak kita. Kita berbagi pengalaman saja. Ya kan kita harus tahu dulu Pak, sebab-musabab tawuran indikatornya seperti apa sih?”. Pengawasan Orang Tua: “Yang pertama tentunya kadang-kadang pengawasan dari orang tua yang kendor juga, kurang ketat.” Pergaulan: “Kemudian pergaulan.” Zat Adiktif: “Kemudian juga ada alat pembantu: minuman keras (tadi sudah disebutkan) dan obat-obatan.  Diminum, yang dimakan itu juga kadang-kadang—saya sudah berkeliling di tiap kecamatan—di Bogor Barat itu saya pernah menemukan itu, saya melihatnya saja mabuk Pak, jangankan meminumnya. Coba, Paramex dicampur spiritus, dikasih lem Aibon, itu dicampur semua Pak. Dari jauh saja baunya sudah menyengat tapi mereka minum.”

Keseriusan Pelanggaran “Dan itu jadi mereka… ya subuh… bukan mereka… sebab kalau lihat tadi video, siapa sih Pak yang berani bacok orang? Bawa senjata, niatnya sudah jelas: membunuh, Pak. Dan buat saya, itu bukan anak kecil. Itu bukan anak kecil kalau buat saya. Tapi undang-undang menyatakan di bawah 17 tahun itu masih di bawah pengawasan orang tua.” “Jadi kalau kata Pak Danramil dan Pak Kapolsek ‘Pak, ini dibina’, kalau buat saya yang begituan dibinasakan. Kenapa? Saya takut besok lusa anak saya yang kena. Besok lusa anak Bapak yang kena.”

Kasus Nyata di Lapangan
” Kemarin kejadian yang paling ramai di TV, orang mau sekolah disiram air keras. Dan itu niat, karena di videonya kelihatan kok. Berboncengan bawa motor, bawa plastik, orang lewat, dilempar. Dan kemungkinan yang satu itu buta ya Pak matanya. Orang mau sekolah.” Unhksp Camat Tajurhalang. Lanjur ivan, “Saya dulu pernah kejadian di Kota Bogor, di Jalan Baru itu yang sebelum Kemang. Orang pulang ujian, Pak, disabet, patah, putus. Orang pulang ujian sekolah. Orang tua enggak tahu apa-apa Pak, anaknya sekolah.”

Peran Orang Tua dan Petugas
“Kita juga sama. Kita pasti akan merasa semua anak-anak kita baik-baik saja. Enggak ada masalah Pak. Tapi di luar, di luar enggak tahu. Anak kita di luar seperti apa kita enggak tahu, karena lebih pintar anak-anak dari kita.” “Kejadian yang tadi lah yang di Simpajaya yang disusulkan Pak Kapolres. Begitu dimintain tolong dicari, anaknya dia! Bapaknya enggak tahu kelakuan anaknya seperti apa. Jadi kita mau tidak mau pola berpikirnya dibalik Pak.” “Kalau tadi Pak Kapolsek, Pak Danramil minta tolong ke Bapak untuk membantu petugas, sebenarnya petugas tugasnya hanya membantu masyarakat Pak. Tanggung jawab terbesarnya ada di masyarakat, ada di orang tua. Kita enggak bisa lihat 24 jam anak-anaknya, yang bisa lihat adalah orang-orang tuanya. Anaknya di mana, ke mana, mau ketemu siapa, pergaulannya dengan siapa.”  .

Refleksi Pola Asuh Zaman Dulu
“Makanya, mohon maaf, kadang-kadang saya kalau ngobrol dengan teman-teman saya, dengan staf, ada untungnya dulu pernah jadi orang Badung (nakal), Pak. Kenapa? Jadi kita indikatornya, indikasinya kita agak lebih tahu gitu. Kalau yang kita lempeng-lempeng saja, dibohongi oleh anak-anak terus Pak, terus terang saja.” “Jadi kalau orang tua dulu ada benarnya. Orang tua dulu itu kamar anak tidak pernah ada pintunya Pak, cuma gorden. Sebenarnya kan cuma buat mengawasi Pak, di kamar itu anak ngapain? Sekarang, di dalam rumah dan di luar rumah sama bahayanya Pak. Dan tidak ada lagi yang namanya anak laki-laki atau perempuan, perempuan bahaya, laki-laki bahaya,” pungkas nya .

Pandangan Pj Kades Tonjong  mengatakan,” Ini bagus, sekali ketika menjelang ramadhan untuk mengantisipasi. Anak-anak kita yang sering tawuran dengan alasan sahur bersama atau buka bersama, ini adalah sangat bagus dari unsur forkopimcan kecamatan Tajurhalang. himbauan untuk warga desanya Tonjong kita sebagai orang tua harus ketat ketika anak berpamitan kemana, dan jangan banyak terlalu di los tetap di dalam pengawasan dengan alasan apapun,itu harapan kita dari pemerintah desa.” Ungkap Pj Kades Tonjong.

Jurnalis : Barata